Senin, 14 Februari 2011

Kebangkitan Turki,masa depan Indonesia


AKARTA - Indonesia harus banyak belajar dari Turki dalam meraihkebangkitan bangsa yang sebenarnya. Turki telah mampu melepaskan diridari bayang-bayang hegemoni negara-negara maju. Sementara Indonesiamalah sebaliknya.

"Indonesia memang harus belajar dari Turkiyang keberadaannya semakin diperhitungkan oleh negara-negara di dunia.Turki telah keluar dari bayang-bayang gelap menuju panggung barusebagai negara adidaya, sebagaimana pernah dipegang pendahulunya,Khilafah Otsmaniyah," ujar Asri Aldila Putri, analis lembaga kajiankomunikasi publik Uvolution Indonesia, di Jakarta.

Asrimengatakan hal tersebut menanggapi kunjungan Presiden SBY ke Turki.Sebagaimana diketahui, kunjungan empat hari ke negeri Ataturk inimendapat tanggapan positif dari berbagai pihak.

Beberapa tahunlalu, Turki bahkan tidak memenuhi syarat untuk menjadi bagian darikelompok negara-negara yang akan mempunyai pengaruh di masa depan,yaitu BRIC (Brazil, Rusia, India dan China). Akronim empat negaradengan pertumbuhan ekonomi pesat, yang pertama kali dicetuskan GoldmanSachs di 2001.

Gabungan ekonomi keempat negara itu diramalkanakan mengalahkan negara-negara terkaya saat ini. Sementara di saatnegara lain mulai melangkah, Turki harus berusaha keras menghadapitantangan budaya Barat, yang telah mengharu biru akar budaya Turki yangIslam.

"Masyarakat Turki seperti berada di sebuah persimpanganantara visi dari sebuah bangsa homogen, yang ditantang oleh berbagaielemen sosial. Khususnya di kalangan masyarakat minoritas yangmenyerukan kebebasan kebudayaan lebih besar dan pembangunan ekonomi,"ujar Asri.

Perlahan tapi pasti ekonomi Turki terus membaik.Turki berpeluang menjadi negara yang memiliki peranan global di masamendatang lewat usahanya menjadi anggota Uni Eropa serta perannya ditingkat regional dan global.

"Dengan populasi penduduknya,budayanya, serta latar belakang sejarahnya, yang pernah menjadiKhilafah, Turki berpeluang menjadi negara adidaya dan kekuatan ekonomiglobal di masa depan," tegas Asri. Menurut proyeksi Goldman Sachs,ekonomi Turki dapat menembus 10 besar dunia pada 2050.

PerananTurki juga sangat diharapkan untuk mengatasi konflik-konflik regional,seperti di Palestina, Irak, dan Afghanistan. Militer Turki saat inimerupakan kekuatan regional terbesar di Timur Tengah. Dengan kekuatanmiliter yang dimilikinya, Turki semakin memantapkan diri sebagai sebuahkekuatan militer dunia.

Tidak hanya itu, Turki kini semakindisegani bangsa-bangsa Arab lainnya. Hasil survei yang dilakukanTurkish Economic and Social Studies Foundation (TESEV) beberapa waktulalu mengungkapkan, dunia Arab memiliki pandangan yang semakin positifterhadap Turki, sebagai negara yang mayoritas penduduknya muslim.

Darihasil survei, 75% responden yang berasal dari Mesir, Yordania,Palestina, Lebanon, Arab Saudi, Suriah dan Irak, Turki dinilai sebagaicontoh negara Islam yang baik setelah Arab Saudi.

Posisigeopolitik Turki yang strategis berada dipersilangan antara Eropa,Timur Tengah dan Asia Tengah, menjadi nilai lebih negara denganmayoritas muslim 99 persen, untuk dapat menjembatani tradisi Islam danYahudi-Kristen. "Bahkan saat ini Turki duduk bersama dengan kekuatandunia lainnya menghadapi masalah-masalah global," tutur Asri.

Sebagaikekuatan politik, Turki juga terus mengalami kebangkitan. Turki tidakragu-ragu menempatkan dirinya di tengah kontroversi besar. Bulan lalusaja, Turki ikut mengatasi krisis nuklir Iran dengan upaya mediasi.Ankara juga mendukung armada yang baru-baru ini mencoba untukmemecahkan blokade Israel di Gaza. Hal tersebut secara tidak langsungikut menaikkan posisi tawar Turki di antara negara-negara dunia.

Kebesaransejarah masa lalu Turki di bawah imperium Turki Otsmani memompa bangsaini untuk kembali menguasai dunia. "Diharapkan dengan kunjungankenegaraan yang dilakukan Presiden SBY, kerja sama global maupunbilateral Indonesia-Turki meningkat. Indonesia dapat belajar kepadakebangkitan Turki," lanjut Asri.

Indonesia dengan Turki memilikibanyak kesamaan dalam menyikapi permasalahan global dan komitmen dalammembangun hubungan yang harmonis antarperadaban Timur dan Barat.

Selainitu, Indonesia dan Turki juga sama-sama menjadi anggota OrganisasiKonferensi Islam (OKI), G-20, dan World Trade Organization (WTO) yangbisa bersuara memainkan peran secara bersama lebih maksimal.

"PenandatangananMoU dan agreement yang dilakukan kedua negara di Istana Presiden Turki,Selasa (29/6) dapat menjadi pintu pembuka bagi masa depan Indonesiayang lebih baik," imbuh Asri.

Delapan MOU itu meliputi kerjasama di bidang teknik, pertahanan, perindustrian, ketenagakerjaan,investasi, transportasi laut, pertukaran program budaya dan pariwisata,serta di bidang televisi antara TVRI dengan RTR Turki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar